Cari Blog Ini

Kamis, 26 April 2012

Asal Muasal Tuak Bagot, Dari Air Mata Gadis Rupawan

Asal Muasal Tuak Bagot, Dari Air Mata Gadis Rupawan

Menurut cerita, tuak bagot lebih dulu ada dari tuak kelapa. Rasanya pun tidaklah sama. Kalau tuak kelapa rasanya lebih manis dan kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding tuak bagot. Sedang tuak bagot rasanya agak asam, kadar alkoholnya lebih rendah. Kebanyakan kedai tuak lebih suka menjual tuak bagot, karena peminatnya juga lebih banyak. Selain itu tuak bagot juga dianggap manjur untuk memperlancar air susu ibu yang baru melahirkan. Itu sebabnya ibu yang baru melahirkan terutama di desa selalu dianjurkan minum tuak, agar “tarusnya” deras sehingga bayinya tidak merasa kekurangan minum.

Mungkin pula bisa dipercaya bisa tidak, hal itu ada hubungannya dengan kisah terjadinya tuak bagot, konon bermula dari airmata seorang gadis rupawan yang mengorbankan dirinya menjelma menjadi sebatang pohon enau (bagot) untuk membebaskan ayahnya dari belenggu hutang. Syahdan, dahulu kala di sebuah perkampungan di pinggiran Danau Toba tersebutlah seorang anak lelaki tua hidup berdua dengan anak gadisnya yang berwajah rupawan (cantik). Lelaki tua itu bernama Jalotua, dan anak gadisnya bernama Pitta Bargot Nauli. Ada pun Jalotua sudah lama menduda sejak kematian isterinya tatkala Pitta Bargot berusia dua tahun. Hidup mereka sangatlah sengsara karena kemiskinan. Kalaupun mereka mengusahai secuil tanah, itu hanya dapat menghidupi mereka untuk jangka waktu tidak lama.

Kesusahan bagi Jalotua dan anak gadisnya datang silih berganti. Apalagi ketika suatu ketika si Pitta Bargot jatuh sakit, bertambahlah kesusahan hati lelaki itu. Sudah hidup sulit, datang lagi penyakit menimpa anak tercinta. Pikir punya pikir, akhirnya Jalotua pergi menjumpai orang kaya di kampung itu minta pinjaman uang untuk biaya mengobati anaknya. Tentu saja Jalotua tidak mempunyai borot (jaminan) kecuali sebidang tanah yang mereka usahai selama ini.

Suatu malam, Pitta Bargot berkata pada ayahnya: “Hidup kita terus menerus susah. Aku pikir kita perlu mengadakan suatu acara margondang sambil berdoa kepada Mulajadi Nabolon, siapa tahu nasib kita bisa berobah”.
Tapi ayahnya menjawab: “Bagaimanalah mungkin itu boru, biaya untuk margondang itu cukup besar, apa daya kita. Kalau kita mau pinjam uang pun apa jaminannya nanti, sedang untuk makan pun kita sulit”.
Mendengar ucapan ayahnya itu, Pitta Bargot berkata: “Kalau itu persoalannya, aku bersedia amang berikan sebagai jaminan. Mungkin orang kaya itu mau memberikan uangnya kita pinjam. Mulanya Jalotua tak tega menuruti usul putrinya itu, tapi karena Pitta Bargot mendesak, akhirnya jadi juga anak gadisnya itu ditawarkan kepada orang kaya itu untuk dijadikan “barang” jaminan.

Kemudian berangkatlah keduanya ke rumah orang kaya tersebut. Setelah hal itu diberitahu, si orang kaya ternyata setuju memberikan pinjaman dengan Pitta Bargot sebagai jaminan. Orang kaya itu berpikir, kalau pun nanti Jalotua tidak mampu mengembalikan uang pinjamannya maka sesuai dengan perjanjian, si Pitta Bargot yang cantik itu jadi miliknya dan nanti bisa dijadikan istri kelima. Setelah uang itu diberikan kepada Jalotua, maka Pitta Bargot pun tinggallah sementara di rumah orang kaya itu.

Berangkatlah si Jalotua membawa uang pinjamannya, mencari pargonsi (grup gondang sabangunan) sesuai saran anak gadisnya. Setelah pemusik gondang sudah ditemukan, dan hari pelaksanaannya ditentukan, si Jalotua pun menjumpai anak gadisnya di rumah si orang kaya memberitahu rencana tersebut.

Pitta Bargot kemudian menjumpai si orang kaya meminta izin agar diperkenankan ikut dalam pesta gondang pada hari yang ditentukan ayahnya. Tapi Pitta Bargot juga bertanya  “Bagaimanakah sekiranya penyakitku kambuh saat pesta berlangsung, lalu aku mati di sana, apakah kami juga membayar hutang yang dipinjam damang?”

Si orang kaya menjawab: “Baiklah, kau boleh pergi menghadiri pesta itu. Tapi setelah pesta selesai, kembalilah ke sini. Tentang kematian yang kau sebut, itu adalah takdir setiap manusia kalau sudah waktunya. Kalau memang kau meninggal saat pesta gondang itu, ayahmu tak perlu membayar hutang-hutangnya”.

Pitta Bargot lalu menceritakan hal itu pada ayahnya. Tapi dalam hatinya sudah ada pikiran tertentu, bahwa orang kaya itu ingin memiliki menjadi istri. Pitta Bargot tidak percaya dengan ucapan orang kaya itu. Dia juga kasihan ayahnya tak sanggup membayar hutangnya setelah pesta selesai. Pitta Bargot pun martonggo (memohon) kepada Mulajadi Na Bolon agar ia dijadikan menjadi sesuatu yang nantinya bisa membebaskan ayahnya dari kesusahan. Saat itu Pitta Bargot telah merasakan bahwa keinginannya akan dikabulkan, sesuai dengan mimpinya. Berkatalah Pitta Bargot kepada ayahnya  “Amang, janganlah bersedih bila ini kukatakan. Kalau aku mati nanti di pesta gondang itu, itu adalah berkat bagi kehidupan dan kebahagiaanmu. Tapi ingatlah amang, setelah aku mati, janganlah mayatku dikubur, karena aku nanti akan berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah yang bisa amang saksikan sepanjang masa. Kalau amang membuat rumah nanti, ambillah rambutku menjadi atapnya, dan tanganku bisa dijadikan tiang-tiang dan urur. Kalau badanku, amang ambillah untuk papan lantai atau dinding. Dan kalau amang tak punya uang, pukulilah bagian mataku, agar air mataku keluar. Tampunglah airmata itu, karena nanti itu bisa dijual menjadi minuman yang disukai banyak orang”.

Mendengar hal itu, ayahnya sangat sedih. Pendek cerita gondang pun diadakan di halaman rumahnya. Saat pesta sudah berlangsung dan musik gondang terdengar tiga putaran, si Pitta Bargot mendadak kesurupan. Saat gondang dibunyikan untuk ke tujuh kalinya, Pita Bargot kejang-kejang, dan tak lama kemudian kedua kakinya melesak ke dalam tanah. Yang lebih menggemparkan, sekonyong-konyong seluruh tubuhnya berubah sedikit demi sedikit menjadi sebatang pohon yang makin lama makin besar, lengkap dengan daun-daun sebagaimana halnya sebatang pohon hidup. Seluruh hadirin yang ada di pesta itu terkejut dan berhamburan kesana-kemari, karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi.

Sejak itu pohon itu diberi nama “bagot”, yang diambil dari nama Pitta Bargot. Pohon itu berurat ke bawah, berdaun ke atas. Lama-lama tumbuh pula “mata” pohon yang disebut juga arirang. Setelah tiba saatnya Jalotua memukuli bagian mata pohon itu seperti dipesankan putrinya. Air yang keluar deras dari air mata bagot itu kemudian dinamakan tuak. Sejak itu Jalotua menjualnya kepada orang-orang sekampung, yang lama kelamaan menyebar ke berbagai penjuru. Pohon bagot itu pun beranak pinak, tumbuh di berbagai tempat, dan memberi kehidupan pula bagi orang lain.

Kemudian Jalotua pun mendirikan rumahnya. Semua perlengkapan untuk rumah tak ada yang dibeli, tapi dimanfaatkan dari pohon bagot seperti pesan Pitta bargot. Mulai dari ijuk, batang, sampai lidi menjadi benda yang bermanfaat untuk manusia.

Sumber: Harry Pasaribu

Rabu, 25 April 2012

SEJARAH OMBUS OMBUS DARI SIBORONGBORONG

 ASAL MUASAL OMBUS OMBUS

Sekitar 60 tahun silam zaman kemerdekaan Indonesia, gerak perekonomian masyarakat di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara mulai Nampak dengan berbagai kegiatan aktivitas perdagangan, mulai perdagangan hasil pertanian hingga sembilan bahan pokok. Namun disisi lain, kreativitas masyarakat didaerah ini muncul, salah satunya adalah membuat dan menjual lepat dengan ciri khas tersendiri. Memang, sebagian besar daerah memiliki ciri khas masakan khas masing-masing dan hingga saat ini selalu dipertahankan dengan berbagai alasan mulai dari adat, budaya maupun alasan tertentu lainnya.
Demikian halnya di Kecamatan Siborongborong, daerah ini memang cukup strategis untuk zona kawasan bisnis, karena berada di daerah Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Tarutung-Balige. Kawasan ini juga berada dipertengahan daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Humbahas. Sehingga tak bias dipungkiri, banyak pedagang dari ketiga kabupaten tersebut melakukan pengembangan usaha di daerah ini.
Awalnya, sekitar tahun 1940-an, almarhum Musik Sihombing lah yang memulai usaha berjualan lepat ini yakni di rumahnya, di Jalan Balige Pusat Pasar Kecamatan Siborongborong. Namun kala itu, Almarhum Musik Sihombing memberi nama lepat tersebut Lappet Bulung Tetap Panas. Usaha tersebut dinilai warga cukup menjanjikan, karena pembelinya cukup lumayan.
Dinilai berhasil, Almarhum Anggiat Siahaan datang dari Desa Pohan Tonga, Kecamatan Siborongborong mulai ikut membuat lepat seperti yang dimulai oleh Almarhum Musik Sihombing. Dibantu sang istri, Almarhum Horlina boru Nababan, akhirnya Almarhum Anggiat Siahaan pun mulai berjualan lepat dengan cara menganyuh sepeda dari desanya. Saat berjualan, Almarhum Anggiat Siahaan mungkin terlalu rancu menawarkan nama jualannya yang terlalu panjang yakni lappet Bulung Tetap Panas seperti yang dimulai Almarhum Musik Sihombing. Sehingga muncullah ide kreatif Almarhum Anggiat Siahaan untuk memberinya nama baru yang lebih simple dan menarik. Nama lepat tersebut dia beri usul Ombus-ombus No.1.
Kalau menilik soal nama dalam Bahasa Batak tersebut Ombus-ombus berarti tiup-tiup. Mungkin alasan Anggiat memberi nama tersebut disebabkan lepat yang terbuat dari tepung beras ini lebih enak dimakan saat panas-panas. Namun pembuatan nama baru ini bukannya berjalan dengan mulus begitu saja, sejak nama baru itu dikumandangkan Almarhum Anggiat, pertikaian soal namapun terjadi dengan almarhum Musik Sihombing (tidak dikisahkan dalam berita ini). Pertikaian itu berakhir seiring dengan waktu, dan Almarhum Anggiat Siahaan tetap mempertahankan nama yang dicetuskannya itu tanpa memikirkan hal-hal lain.
Hampir setiap hari, Almarhum Anggiat Siahaan menjajakan lepat Ombus-ombus No.1-nya ke Pasar Siborongborong. Ditengah ramainya Pasar Siborongborong, Alamarhum Anggiat tetap gigih menjajakan lepatnya.. Sementara dirumah, sang istri Almarhum Herlina Boru Nababan sudah menyiapkan lepat baru untuk dijual keesokan harinya. Dengan tekun dan kerja keras, kedua Pasangan Suami Istri (pasutri) ini mampu meraup keuntungan yang cukup untuk membiayai kebutuhan rumahtangga meereka hingga dari keduanya dikaruniai 8 anak (dua laki-laki dan enam perempuan). Saban hari hingga bertahun-tahun lamanya, dari subuh hingga magrib, Almarhum Anggiat yang dikenal pekerja keras ini terus mengembangkan usahanya. Hingga suatu ketika, ia mendapat kado dari pihak mertuanya (Marga Nababan) untuk membangun sebuah gubuk dagangannya di depan Terminal Mini Siborongborong. Kala itu (Sekitar tahun 1970-an), menurut anaknya Walben Siahaan (51) yang saat ini meneruskan usaha orangtuanya mengisahkan, Jumat (30/1) bahwa gubuk itu sangatlah sederhana atau ala kadarnya. Yang penting bisalah untuk tempat berjualan, tutur Walben Siahaan.
Didepan gubuk kecil itu, Almarhum Anggiat Siahaan langsung membuat plang tanda Ombus-ombus No.1. Dan sejak itulah, Almarhum  Anggiat tidak lagi menganyuh sepedanya untuk berjualan, melainkan hanya menunggu di gubuk yang baru dibangunnya. Pelan tapi pasti, dengan bantuan anak-anaknya, usaha keluarga itu pun terus berjalan lancar. Tahun 1994, Alamarhum Anggiat Siahaan akhirnya dipanggil oleh-Nya, dan meninggalkan sang almarhum istri Horlina boru Nababan (meninggal tahun 2002) dan ke delapan anaknya. Namun perjuangan keras hidupnya itu tak berakhir sia-sia, tiga anaknya berhasil masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara yang lainnya kebanyak berwiraswasta. Walben Siahaan Teruskan Usaha Ombus-ombus No 1. Walau kini berbagai jenis jajanan modern muncul diperjual belikan terutama di pasar-pasar atau pinggiran jalan Siborongborong, Walben Siahaan (51) anak kandung Almarhum Anggiat Siahaan (Pencetus nama Ombus-ombus No.1) ini tetap mempertahankan usaha yang dirintis oleh almarhum orangtuanya. Walben Siahaan yang mempersunting sang istri tercinta Besinna Boru Togatorop (42) dan dikarunia dua anak ini malah semakin mengembangkan nama Ombus-ombus untuk bisa dikenal dan dikenang oleh masyarakat luas. Walben yang kini menjadi Kepala Desa Pohan Tonga , Kecamatan Siborongborong ini dengan tidak mau kalah dengan almarhum orangtuanya. Apa ide kreatif Walben itu?
Ide itu adalah dengan membuka sebuah perusahaan jasa angkutan umum berbentuk persekutuan komanditer yang diberi nama CV. Ombus-ombus.
Apa yang membuat Walben Siahaan untuk tetap mempertahankan nama Ombus-ombus No.1?
Dikisahkannya, bahwa dulunya almarhum ayahnya, tak pernah mengenal lelah untuk menjajakan lepat yang dibungkus dengan daun pisang dan dicampur dengan gula merah dan gula pasir ini. walau hujan dan terik mentari dipersimpangan Jalinsum yang ada Siborongborong, dengan menganyuh sepeda dan dibelakangnya dibuat kotak tempat lepat Ombus-ombus No.1. Ayah ku tetap mengejar pembeli, bahkan menawarkannya ke bus-bus angkutan yang sengaja berhenti di Simpang Tiga Kota Siborongborong. Jadinya saya memaknai perjuangan keras itu sampai sekarang, hal ini juga saya ceritakan kepada kedua anak saya, tutur Walben Siahaan, Jumat (30/1) di rumahnya.
Kembali diceritakannya, berkat perjuangan keras sang ayah, ia pun bisa menikmati harta peninggalan orangtuanya, apa itu?
Sisingamangaraja atau persis didekat terminal mini Siborongborong.. Semenjak bangunan itu permanen, pembeli yang datang Sebuah gedung bertingkat yang kini ditempatinya hasil peninggalan Almarhum kedua orangtuanya. Letaknya di Jalan kerumahnya yang berbentuk warung (Lapo-dalam bahasa Batak) semakin ramai. Pembeli yang datang tidak memandang usia, semua kalangan datang, bahkan masyarakat yang melintas dari Siborongborong ini sengaja singgah untuk membeli oleh-oleh Ombus-ombus No.1, bahkan untuk acara-acara besar pun sering dipesan khusus, seperti pertemuan Usnsur Muspida Taput, Tobasa, Humbahas atau acara pernikahan dan lain-lain, kata Walben.
Ditengah usaha kerja keras Walben Siahaan untuk mengusahai jualan lepat ini, sang istrinya Besinna boru Togatorop bahkan disokongnya untuk menjadi calon anggota DPRD Taput periode 2009/2014 dari Daerah Pemilihan (Dapem 2) yang meliputi Kecamatan Siborongborong, Sipoholon, Parmonagan, Muara dan Pagaran. Jumat (30/1) Besianna boru Togatorop mengatakan, keinginanya untuk maju menjadi Caleg tak lain adalah untuk mendukung pengembangan perekonomian masyarakat dengan budaya kerja keras serta melestarikan adat dan budaya (Bagian dari sektor pariwisata) daerah ini. Perjuangan istri saya memang berat, tapi kami optimis, berkat Tuihan, dan berbekal Ombus-ombus No.1 serta dukungan masyarakat istri saya pasti bisa menjadi anggota DPRD nantinya, tukas Walben Siahaan dengan nada optimismenya.
Ketika ditanya apakah usaha lepat Ombus-ombus No.1 itu suatu saat akan hilang?
Pria yang suka nyelonoh dan humor ini dengan tegas mengatakan, bahwa usaha itu akan terus dipertahankan oleh keluarganya hingga turun temurun. Pengunjung Singgah Diwarung Ombus-ombus No.1 Sambil Minum Kopi Warung atau dalam bahasa Batak disebut  Lapo Ombus-ombus No.1 juga menyediakan kopi asli dan hidangan teh manis bagi para tamunya yang singgah ditempat ini. Sambil minum kopi, biasanya pengunjung memesan Lepat Ombus-ombus No.1 yang masih panas. Bisa kita bayangkan bagaimana nikmatnya hidangan itu apalagi dibarengi dengan cuaca dingin dan sejuk Kota Siborongborong.
Setiap minggu saya melintas dari sini sebanyak dua kali, dari Kota Pematang Siantar menuju Kota Sibolga dalam rangka tugas kerja dengan mengendarai sepeda motor. Jadi hampir setipa minggunya saya singgah di Lapo Ombus-ombus No.1 ini untuk minum kopi sambil menikmati lepat Ombus-ombus. Kenapa saya selalu singgah disini? karena jarak antara Kota Pematang Siantar menuju Kota Sibolga pertengahannya Kota Siborongborong. Jadi enak aja menikmati kopi dan lepatnya, tutur Tony Sirongoringo (32) warga asal Jalan Medan, Kota Pematang Siantar ini, Jumat (30/1) di warung Ombus-ombus No.1 milik Walben Siahaan di Siborongborong.
Mengomentari enak tidaknya Ombus-ombus No.1 yang disuguhkan, Tony mengatakan enak, apalagi kalau sambil minum kopi. Enak sih, tapi lebih enaknya kalau panas-panas sambil minum kopi, katanya. Tony menyarankan kepada pemilik warung Ombus-ombus No.1, sebaiknya lepat Ombus-ombus itu tetap dapat disuguhkan panas-panas. Kalau boleh ngasih saran, ombus-ombus itu sebaiknya tetap disuguhkan panas-panas, kadang tidak panas, jadi kurang enak dimakan sambil minum kopi, imbuh Tony.
Cocok Buat Oleh-oleh.
Sedangkan pengunjung lainnya, H.Sardian Siregar (44) yang singgah bersama rombongan keluarga dengan menaiki mobil pribadi di Lapo Ombus-ombus No.1 ini mengatakan, bahwa keluarganya di Medan sering menitipkan agar dibelikan Ombus-ombus No.1 untuk oleh-oleh. Kalau kami sudah langganan lah Ombus-ombus No.1 ini buat oleh-oleh ke Medan , setiap kami mau ke Medan atau Tebing Tinggi untuk berkunjung ke tempat keluarga selalu membeli Lappet (Lepat) ini, tukas Sardian Siregar.
Ketika Metro bertanya, kenapa keluarganya selalu memesan Ombus-ombus No.1, Sardian menjelaskan, bahwa sebenarnya yang memakan Ombus-ombus itu nantinya adalah seluruh keluarga saya dan keluarga kami di Medan.Kan enak sambil bercerita-cerita atau berkeluh kesah dengan keluarga sambil ngopi dan makan Lappet ini, paparnya.
Komponis Batak Alm. Nahum Situmorang abadikan Ombus-ombus Dalam Sebuah Lagu. Bagi Anda suku Batak, mungkin lagu Marombus-ombus karya cipta komponis besar Almarhum Nahum Situmorang sudah tidak asing lagi didengar. Lagu ini malah sudah sering didendangkan oleh para Parmitu atau peminum tuak di Lapo-lapo tuak (Kedai tuak). Entah faktor apa dulunya yang mengimajinasikan Nahum Situmorang untuk menciptakan lagu bertemakan Ombus-ombus ini yang dikaitkan dengan Si boru Hombing. Namun, kita pantas untuk mensyukurinya. Kenapa? karena ternyata untuk mengabadikan sebuah masakan khas bisa juga lewat sebuah lagu. Mungkinkah Almarhum Nahum Situmorang semasa hidupnya juga salah seorang penggemar Lappet (Lepat) Ombus-ombus?
Kita tidak tahu, ataukah lagu itu hanya sekedar hasil karya dengan imajinasi yang kuat?
ataukah Nahum Situmorang memang pernah punya kenangan dengan seorang gadis boru Sihombing?
Kita tidak tahu karena beliau telah mendahului kita yang menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 20 Oktober 1969 di RSUP Medan.
Inilah syair lagu Marombus-ombus Ciptaan Nahum Situmorang:
Marombus-ombus do, lampet ni Humbang tonggi tabo
Na ngali ari i disi anggo alani ombus-ombus do
Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
Da na uli do
Reff
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Molo naung hoji ho, tu boru Hombing tibu ma ro
Lao ma damang da lao ma damang
Tu luat ni parombus-ombus do
Oooooo ale boru Hombing
Paima ma si doli ro
Di Siborong-borong i
Tusi nama si doli ro
Ai boru Hombing do, na paturehon mancai malo
Tung ngangur do datung hushus do rupana pe
Da na uli do
Reff
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Oooooo doli-doli, ho naposo na jogi
Dompak Humbang i, lao ma damang da tusi
Siborong-borong i
Oooooo ale boru Hombing
Paima ma si doli ro
Di Siborong-borong i
Tusi nama si doli ro
Sepintas dari lirik lagu itu memang singkat tapi cukup bermakna sesuai dengan kondisi daerah di kawasan daerah Humbang (Siborongborong, Doloksanggul, Lintong Nihuta, dan kawasan lainnya) ini. Tapi yang menjadi pertanyaan, akankah ada lagu pencipta lagu Batak yang mampu menciptakan sebuah lagu untuk sebuah masakan khas dari kawasan Tapanuli.? kita hanya bisa berharap atau berbuat tergantung.
Sementara ini Ombus-ombus masih tetap terjaga, dengan masih utuh adanya beberapa penjaja Ombus-ombus di Simpang tiga Siborongborong yang menggunakan sepeda. Tapi yang perlu kita ketahui, para penjual Ombus-ombus ini bukannya membeli Ombus-ombus yang akan dijualnya dari Warung Walben Siahaan (Anak pencetus nama Ombus-ombus No.1 alm.Anggiat Siahaan), melainkan bikinan sendiri. Penghasilan para penjual Ombus-ombus sepeda ini memang tidak begitu besar. Keuntungannya hanya berkisar antara Rp.30 ribu hingga Rp.40 ribu per harinya. Namun ada yang sedikit aneh, dari sekitar 8 orang penjual Ombus-ombus bersepeda di Siborongborong saat ini. Apakah itu?
Dari delapan orang ini, dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok Desa Somanimbil dan Kelompok Desa Sambariba Horbo. Kenapa demikian?
Inilah mungkin hasil mufakat dari pertikaian sekitar 50 tahun silam antara alm.Anggiat Siahaan dengan Alm.Musik Sihombing yang mempersoalkan nama antara Lappet Bulung Tetap Panas karya Alm.Musik Sihombing dengan Ombus-ombus No.1 karya Anggiat Siahaan. Kedua kelompok penjual Ombus-ombus tadi, kini harus berbagi hari untuk berjualan di Pasar Siborongborong. Jika hari Senin kelompok dari Desa Somanimbil yang berjualan, maka hari berikutnya adalah kelompok dari Desa Sambariba Horbo, begitulah seterusnya. Mungkin kalau kita nilai, hal ini merupakan persaingan ekonomi berdasarkan musyarawarah dan mufakat. Artinya, persaingan ekonomi sebagaimana dalam ilmu atau prinsip perekonomian dalam ilmu pendidikan yang kita peroleh tidak logis. Tapi inilah sebuah contoh keadilan dari masa silam.